Kepepet

Sampai saat ini saya masih belum bisa percaya kalau seseorang berada dalam waktu kepepet maka kemampuan terbaiknya akan muncul. Mengapa demikian? Karena kemampuan terbaik perlu persiapan dan pengumpulan energi. Kepepet memiliki kecenderungan tergesa dan mengabaikan detil. Yang ada di pikiran hanya dapat selesai, karena itu ia mengeluarkan seluruh tenaga agar tidak terlambat. Gitu aja sih (:

Advertisements
Posted in Curhat | Tagged | 1 Comment

Positif untuk Membangun

Apa yang saya pelajari dari Jokowi? Sederhana dan merakyat..
Apa yang saya pelajari dari Prabowo? Apresiasi dan penghargaan pada setiap orang..

Mari komentari positif untuk dua calon pemimpin negeri ini.
Saling menjelek-jelekkan capres yg tak didukung itu, membuat siapapun yg menang nanti akan jadi presiden yg terkesan jelek.

Kritik boleh terlontar, tetapi ditujukan untuk ide-ide yang mereka bawa untuk negeri ini. Kalau ingin membangun tidak harus dengan merusak dulu kan?

Dan inilah pesan untuk mereka dari Bung Karno,

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.”

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. Bangsa yang tidak percaya kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka. Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong. Revolusi Indonesia belum selesai.”

Posted in Nasihat | Tagged , | Leave a comment

Bingung Mau Nulis Apa

Senior saya dalam dunia kepenulisan, Isa Alamsyah, pernah memberikan pencerahan tentang ini. Beliau berkata,

“Pertanyaan atau pernyataan yang kerap muncul dari anggota KBM yang baru mulai menulis adalah: Saya bingung harus nulis apa? Saya bingung harus mulai darimana? Lucunya ketika mereka menyatakan itu, kadang mereka menulis dengan panjang lebar keluhannya, masalahnya, kendalanya, dll. Mereka tidak sadar mereka itu sedang menulis.”

Suatu ketika beliau membuat tweet di @isaalamsyah tentang mereka:
“Saya heran sama yang menulis ia tidak bisa menulis dan menjelaskan kesulitannya, padahal saat itu sebenarnya dia itu sedang menulis”

Biasanya jika ada pertanyaan kepada beliau, “Saya bingung ingin menulis apa.” Beliau akan menjawab; “ya kamu tulis saja tentang kamu sedang bingung.” Dan kalau ada yang bilang mau nulis takut dikritik, takut malu, beliau akan menjawab: “ya tulis saja tentang ketakutanmu.”

Alhamdulillah, akhirnya dari mereka yang bingung dan takut justru mereka menghasilkan karya yang cukup unik dan menurut beliau justru menghibur.

Simak saja:

Pingin bisa nulis seperti kamu ..
Merangkai kata demi kata menjadi cerita.
Pengen bisa nulis seperti kamu …
Kata ceritamu bisa mengajak tawa .. Senang .. Sedih .. Menangis.
Pengen bisa nulis seperti kamu ..
Kata demi kataku tuk menyemangati diri sendiri
Ini karya Dhona Dhani

Kebingungannya, ketakutan, harapan justru jadi ide tulisan.
Singkat tapi justru kita bisa dapat sesuatu.

Lain lagi dengan Yumi Tsania. Daripada takut tidak dikomentari, takut diabaikan oleh penulis yang lain, dia memilih memberi semangat buat sendiri dan yang lain.

Menulislah, walau hanya sepatah kata,
Menulislah, walau tak semua orang akan membacanya,
Menulislah, walau apa yang kau tulis, tidaklah berarti apa- apa..
Menulislah, walau kau tak akan mendapat pujian..
Menulislah, walau waktu mu tak selalu luang..
Menulislah, walau hati mu bersedih..

Dengan contoh di atas, maka kalau bingung, takut, gak tahu mulai dari mana, tulis saja apapun yang berputar di otakmu, lama kelamaan kamu akan mengenali diri dan menghasilkan tulisan yang lebih berkembang dan berkesan buat pembaca. Begitu pesan beliau.

So, ketika kita bingung mau nulis apa, itupun dapat menjadi sebuah tulisan. Kalau begitu, tidak ada alasan untuk tidak menulis.

Selamat menulis! 🙂

 


Isa Alamsyah, beliau adalah penulis buku No Excuse, Dendam Positif, dan lain-lain. Suami dari penulis terkenal, Asma Nadia. Founder dan Pengelola Komunitas Bisa Menulis (KBM) bersama istri dan tim. Posting ini merupakan hasil dari diskusi tulisan beliau di KBM.

Posted in Nasihat | Tagged , | 1 Comment

Penantian Ali (3)

“Ali, mau ke mana kamu nak? Ibu ingin kamu tanya ke Pak Salam, katanya ada yang mau pesan mangga dalam jumlah besar saat panen nanti.”

“Oh iya bu. Ali mau pergi ke kampung sebelah. Ada sedikit keperluan. Nanti sepulang dari sana Ali coba mampir ke tempat Pak Salam.”

Segera setelah Ali bersalaman dengan ibunya, ia melangkahkan kaki menuju kampung di mana Kiai Muhsin tinggal. Tempatnya dekat, namun belum pernah sekalipun ia kunjungi. Maklum saja, sejak kecil Ali lebih banyak berada di pusat kota. Mulai dari SD hingga SMA bersama dengan Pak Karso, ayah angkatnya.

Mulai umur 4 tahun, Ali sudah ditinggal ayahnya. Ia yatim. Lalu dengan kemurahan hati Pak Karso, teman baik ayahnya, menawarkan untuk mengasuh dan membiayai pendidikan Ali hingga ke perguruan tinggi. Hanya setiap satu bulan sekali ia pulang ke tempat ibunya.

Mentari terasa memanggang bumi. Panas sekali hari ini. Keringat bercucuran terlihat dari tubuh kecil Ali. Banyak orang bilang ia semakin kurus ketika pulang dari Surabaya dua tahun lalu.

Ali terlihat lelah. Ia berteduh sejenak di bawah sebuah pohon rindang di samping jalan setapak yang ia lalui. Mengatur napas dan kemudian duduk bersandar di bawah pohon itu.

“Ternyata cukup jauh juga pesantren Kiai Muhsin,” keluh Ali.

Sudah tiga kilometer Ali berjalan. Ketika perjalanan tadi ia sempat bertanya di perbatasan kampungnya pada orang tua keriput yang memanggul kayu bakar. Katanya tak jauh. Mungkin Ali tak terbiasa berjalan sedikit jauh, berbeda dengan orang tua itu. Dasar anak jaman sekarang.

Karena terlalu panas dan lelah, Ali semakin merasa nyaman berada di tempatnya. Lalu ia terlelap.

Posted in Sastra | Leave a comment

Dua Negeri

Di bawah langit yang sama
aku berdiri
namun, pada tanah yang berbeda

dua negeri sudah aku singgahi
negeri ini dan negeri tetangga
pernahkah kau ke sana?
tempat yang sudah tidak asing lagi
bangunan-bangunan megah mencengkeram langit
kampung-kampung padat penduduk

itulah yang juga aku temukan di negeri itu
kala kuberjalan di trotoar kota
nuansa kotaku pun menguat
bogor dan johor
dekat dan hangat

Posted in Sastra | Tagged , , | Leave a comment