Penantian Ali (1)

“Entah sudah berapa lama hati ini merindu. Berharap agar segera dapat menyatu. Siapa lagi jika bukan denganmu, Dinda. Dua tahun lebih sejak kita pertama kali bertemu. Di tempat bersejarah ini. Hingga akhirnya tamu agung hadir dalam kehidupan kita. Siapa lagi kalau bukan Cinta. Pelanginya kini menghiasi hujan rinduku padamu. Hari-hari yang kita lalui berubah menjadi lebih indah. Pertemuan kita pun menjadi lebih bermakna. Tak dapat dipungkiri, aku dan gelas cintaku pernah terkotori atau bahkan tumpah walaupun hanya sedikit. Menurutku, itu adalah suatu hal yang wajar. Kita patut bersyukur, cinta tak pernah lari dari kita. Meskipun mungkin kita pernah berlari menjauhinya. Kini, semua pilihan ada di tangan kita. Cinta tidak memaksa. Aku dan kamu, sampai kapankah kita harus menunggu?” kalimat-kalimat itu terlintas ketika Ali berada dekat dengan sosok perempuan yang ada di hadapannya. Namun, tak pernah ia ungkapkan. Tentu Ali tidak akan mendapat jawaban dari perempuan itu selain diam. Hanya Tuhan yang tahu apa isi hatinya.

Hening. Kabut dari gunung mulai turun perlahan diselimuti dinginnya udara. Kini, mentari telah bersembunyi. Hanya terdengar kumandang adzan dari kejauhan.

“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.”
“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.”
“Asyhadu anlaa ilaaha illallaah..”

Tiba-tiba air bergerombol menyerbu kami yang sedang asyik mendengarkan panggilan Yang Maha Lembut. Semakin deras, suara kumandang adzan itu pun kini sudah tak terdengar lagi.

Ali mulai mengayunkan langkah bersama perempuan tadi dan berlari memasuki sebuah mushala kecil di desa itu.

“Kita shalat dulu yuk?” seru Ali.

“Iya, tolong jaga tasku ya. Aku ambil wudhu dulu.” jawab perempuan itu dengan halus.

Tak ada yang datang ke mushala yang nampak tua itu selain dua orang tua yang tinggal di rumah samping kanan dan kirinya. Salah seorang di antara keduanya pun menyerukan ajakan untuk shalat kepada seluruh warga desa melalui pengeras suara.

Kini giliran Ali mengambil air untuk membasuh fisiknya yang terlihat amat lelah. Perempuan yang tadi menemani Ali kini sudah berada dalam mihrabnya.

Tidak ada lagi warga desa yang datang sampai Ali masuk ke dalam mushala itu. Dan mereka shalat bertiga. Oh maaf, maksudku berempat jika ditambah dengan perempuan itu. Sudah dua tahun sejak aku di sana, tak ada perubahan apapun. Hanya dua orang tua itu yang taat untuk menghadap Tuhannya.

About Ikhwan Al Amin

"I am a mathematician, but very interested to writing on media especially about politics and world of education characters. Loved sastra. Studied in Bogor Agricultural University, Indonesia."
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s