Menjadi Bisa

Pengalaman di dua pekan belakangan ini memberikan saya pelajaran yang sangat berharga. Sekitar dua minggu yang lalu saya mengikuti acara Pengajian Sastra yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jakarta di Museum Bank Mandiri. Ketika itu saya dan beberapa rekan dari FLP Bogor mendapatkan materi tentang Sastra Profetik yang disampaikan oleh mas Irfan Hidayatullah, penulis novel “Sang Pemusar Gelombang”, pakar sastra profetik Indonesia, Prof. Abdul Hadi WM, juga seorang penulis ternama, Ibu Naning Pranoto.

Kali ini saya tidak akan menyampaikan mengenai materi yang disampaikan waktu itu. Saya hanya ingin bercerita tentang rekan saya di FLP Bogor. Mas Syaiha, begitulah saya menyapanya. Kini sedang mengambil S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Seorang yang saya kenal sangat senang menulis, utamanya adalah novel. Bahkan beberapa karyanya sudah bisa didapatkan di toko-toko buku ternama seperti gramedia.

Ada hal berbeda yang ada pada diri beliau. Beliau selalu mengatakan, “Aku tidak cacat, hanya tidak bisa berjalan normal seperti kalian saja. Selebihnya kita sama”. Tak dapat dipungkiri, kebanyakan orang seperti beliau – yang sering disebut sebagai penyandang disabilitas, pasti pernah mengalami kondisi down secara mental. Namun, beliau tak pernah menyesali apa yang telah Allah anugerahkan padanya. Dan yang harus dilakukan adalah berkarya dan terus berkarya. Sehingga membuktikan bahwa tidak ada perbedaan antara beliau dan orang pada umumnya selain karya yang telah dibuat.

Rasa malu, sangat malu, menghinggapi perasaan saya. Manusia yang Allah ciptakan lengkap dan sempurna ini belum menghasilkan karya yang benar-benar bisa memberikan manfaat pada orang banyak. Serasa ditampar habis-habisan ketika saya mendengarkan nasihat dan cerita dari beliau. Satu pesan yang saya ingat dari beliau yang disampaikan kepada kami di FLP Bogor, “Menulislah setiap hari, dan buatlah karya dengan tulisanmu”.

Belum lama setelah itu, dua atau tiga hari yang lalu, saya mengikuti Latihan Gabungan Wilayah Barat ke 3 PPSDMS Nurul Fikri. Lagi-lagi saya mendapat tamparan keras dari pemateri yang sungguh menginspirasi. Diawali kisah sukses kang Faza Meonk yang mengajak kebaikan melalui komik Si Juki. Lalu kisah kang Indra dan mas Iwan yang merupakan penyandang disabilitas. Mas Indra tidak punya kaki karena kecelakaan kereta, dan mas Iwan hilang kaki sebelah akibat kecelakaan kerja. Mereka tidak mampu membeli kaki palsu di Rumah Sakit karena sangat mahal. Akhirnya setelah eksperimen 8 bulan, kang Indra dapat membuat sendiri dari bahan sederhana, pipa pvc. Sejak saat itu, kang Indra menjadi pembuat kaki palsu bagi para penyandang cacat kaki yang membutuhkan tumpuan. Beliau memberikan dengan harga sangat murah, bahkan tidak memaksakan membayar bagi mereka yang tidak mampu. Kini pekerjaan beliau adalah sebagai pembuat kaki palsu yang dapat dinikmati oleh semua orang yang membutuhkan.

Esoknya, masih di tempat yang sama, kami kedatangan mas Eko Ramaditya Adikara. Saya memanggilnya bang Rama. Seorang tunanetra yang memiliki segudang prestasi dan karya. Kini beliau juga menjadi seorang dosen di salah satu universitas di Jakarta. Dalam segala kekurangannya sebagai seorang tunanetra, beliau tetap memberikan karya terbaiknya bagi bangsa. Hal yang sangat tidak kita duga, setelah lulus SLB, beliau melanjutkan SMP dan SMA di sekolah umum, bahkan kuliah S1 dan pasca sarjana di Universitas Darma Persada Jakarta seperti orang pada umumnya. Beliau terkenal sebagai seorang blogger dan penulis. Buku barunya yang sangat menginspirasi berjudul “Mata Kedua”, berduet dengan buku karangan Mba Achi berjudul “Hati Kedua”. Buku yang sangat menginspirasi saya untuk berkarya. Jika mereka saja bisa, mengapa kita tidak bisa?

Salam persahabatan, penuh semangat dan perjuangan kepada seluruh orang yang tidak sesempurna saya dalam fisiknya. Namun, bukan berarti kalian tidak mampu. Bahkan sebagaimana beberapa orang yang saya ceritakan di atas, kalian justru lebih banyak berkarya daripada saya. Salam perjuangan🙂

Menyambut Hari Difable Sedunia, 3 Desember 2013.

About Ikhwan Al Amin

"I am a mathematician, but very interested to writing on media especially about politics and world of education characters. Loved sastra. Studied in Bogor Agricultural University, Indonesia."
This entry was posted in Curhat and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Menjadi Bisa

  1. noe says:

    Aah.. kak Rama.. jadi inget novel ternarunya.. mata kedua hati kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s