Hak-hak yang belum dipenuhi bagi kaum Difabel di Indonesia

Saat ini banyak kisah di balik kehidupan para Difable-penyandang cacat, diangkat oleh media massa. Menurut Data Kementrian Kesehatan, mereka berjumlah 6,7 juta jiwa di seluruh Indonesia. Sebagai warga Negara Indonesia, kita tidak bisa menutup mata atas keberadaan mereka. Nyatanya mereka ada. Dan mereka hidup di sekitar kita.
Namun, Kehadiran Difable sering diabaikan dan diremehkan. Jika menengok ke Negara adidaya, Amerika Serikat, mereka sangat memperhatikan eksistensi para penyandang cacat. Amerika membuktikannya dengan menyediakan fasilitas-fasilitas khusus bagi para Disability, contoh kecilnya tempat parkir, transportasi umum, toilet khusus dan tidak membatasi persyaratan untuk lapangan pekerjaan.

Jauh berbeda kenyataannya di Indonesia dibanding Amerika. Memang sudah terlihat fasilitas-fasilitas khusus untuk para Difable di transportasi umum, contohnya Bus Way dan di toilet-toilet Mal yang tersebar di Jakarta. Namun masih sedikit yang menyediakan tempat parkiran khusus bagi Difable di Indonesia ini, apalagi di kota-kota besar di Indonesia selain Jakarta. Tidak seperti di Amerika, di setiap tempat parkiran, selalu ada tempat khusus buat Difable, baik itu di kota kecil maupun kota besar.

Apalagi jika kita bicara soal lapangan pekerjaan. Masih banyak perusahan-perusahaan di Indonesia memandang “miring” atas kemampuan kerja para disabilitas ini. Para penerima kerja di perusahaan-perusahaan masih menganggap kemampuan bekerja orang-orang Difable, masih dibawah rata-rata orang normal. Bahkan, tidak banyak dari penerima kerja tersebut berpikiran, perusahaan akan mendapatkan kesulitan dari segi waktu, finansial dan lain sebagainya, jika menerima pegawai yang hanya mempunyai keterbatasan tertentu.

Sudah jelas paradigma yang terjadi di Indonesia terhadap perlakuan orang-orang Difable ini salah besar. Saya suka melihat program-program TV inspiratif-mengangkat kisah-kisah para Difable. Seharusnya pola pikir kita sudah berubah setelah melihat tayangan di televisi. Atau mungkin saja kita ini tidak pernah menyaksikan tayangan seperti ini di televisi.

Menurut sumber berita, Artikel “Menanti Hak kerja Kaum Difable,”Media online KBR68H, Bursa Kerja yang membuka kesempatan bagi kaum Difable, kali pertama diadakan di Jakarta. Dan sekitar 80 lebih calon dengan kebutuhan khusus ini mengikuti bursa kerja yang digelar di Balai Kartini, 2011.

Dari cerita para calon pekerja Difable, mereka banyak meng-apply pekerjaan dan belum ada tanggapan sama sekali. Kalau tidak ditolong oleh kerabat atau teman-teman dekat mereka, mungkin sekarang mereka masih banyak yang menganggur. Dan bursa kerja ini sangat membuka kesempatan bagi mereka.

Menilik situasi seperti ini Pemerintah sudah semestinya membuka suara dan mengajak perusahaan-perusahaan besar dan kecil untuk mendukung dan menerima pegawai Difable di perusahaan mereka. Pemerintah dan masyarakat harus yakin, bahwa setiap manusia mempunyai kemampuan khusus tersendiri, baik dia bertubuh sempurna atau cacat. Karena Tuhan memberikan manusia kelebihan dan kekurangan dan di setiap kelemahan pasti ada berdiri suatu kemampuan atau keahlian luar biasa yang dimiliki setiap manusia.

Pemerintah pun harus menghilangkan peraturan, kebijaksanaan dan undang-undang yang mendekriminasikan kaum Difable. Seperti Undang-undang Nomor 34 tahun 1965 tentang Jasa Raharja junto Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1965 yang mengatakan, “ Jika kecelakaan terjadi karena disebabkan korban yang memiliki cacat badan, maka Jasa Raharja tak akan memberikan santunan”. Jelas ini peraturan asuransi yang hanya menguntungkan pihak asuransi saja dan amat merugikan bagi kaum Difable. Padahal orang-orang Difable mempunyai hak untuk mempunyai asuransi, tetapi jika begini keadaannya, buat apa mereka membuat asuransi.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, menyebutkan bila kaum difable sama dengan penyandang masalah kesejahteraan sosial, pecandu narkoba, pekerja seks komersial, gelendangan, dan pengemis.

Contoh Undang-undang seperti di atas, membuat batas rintangan para Difable untuk berkegiatan lebih luas dan membuat stigma masyarakat yang tidak mendukung keberadaan mereka.

Jelas sudah mata hati masyarakat dan Pemerintah Indonesia masih memalingkan pandangannya terhadap penyandang cacat. Perbedaan ini cukup mencolok jika dilihat realita kehidupan penyandang cacat di Amerika sana.

Mereka-Kaum Difable-mempunyai hak yang sama seperti kita, manusia yang bisa dibilang bertubuh sempurna. Baik itu soal fasilitas, kebutuhan, undang-undang, pekerjaan dan lain-lainnya, bahkan persoalan cinta pun.

Dengan tulisan ini penulis berharap, kita semua bisa menghancurkan paradigma-paradigma negatif secara bersama-sama.

Tuhan pun tidak pernah membeda-bedakan makhluk ciptaannya, mengapa kita sebagai manusia justru mendirikan perbedaan itu sendiri?

Tulisan saudari kita setahun yang lalu, Sari Novita.

About Ikhwan Al Amin

"I am a mathematician, but very interested to writing on media especially about politics and world of education characters. Loved sastra. Studied in Bogor Agricultural University, Indonesia."
This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Hak-hak yang belum dipenuhi bagi kaum Difabel di Indonesia

  1. perkofashion says:

    Bener gan,,,,,kaum difable emang seperti dipinggirkan dan kurang diperhatikan (menurut saya). Hal tersebut bertentangan dengan UU dan pancasila lhohhh, sayang sekali yahhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s