Menyambut Mentari

Rona hitam yang tampak di wajahmu perlahan mulai menghilang. Aku tahu betapa letih dirimu. Sebuah kebiasaan yang selalu ku kagumi dan tak pernah hilang darimu: kerja keras. Selama diriku membersamaimu, tak pernah ku dengar kata pasrah dan menyerah. Kau selalu berusaha dan terus berusaha hingga kata sulit itu pergi menjauh dari kehidupanmu.

Entah berapa kali kau pernah bercerita tentang mentari. Konsistensinya dalam kebaikan dan kebermanfaatannya bagi sekitar. Kau juga menceritakan kemampuan dan kompetensi mentari. Juga tentang cahayanya.

Aku tahu kau menginginkan mentari itu bersinar menerangi alam raya, bermanfaat pada sekitar dengan segala cahaya yang dimilikinya. Kini aku tahu siapa yang kau anggap mentari itu. Anakmu yang lemah ini. Mungkin belum ada prestasi membanggakan yang telah ku persembahkan untukmu. Namun aku akan terus berusaha sebagaimana dirimu telah berkorban untukku.

Aku mencintaimu, Ayah…

About Ikhwan Al Amin

"I am a mathematician, but very interested to writing on media especially about politics and world of education characters. Loved sastra. Studied in Bogor Agricultural University, Indonesia."
This entry was posted in Nasihat and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s