Sepanjang Malam di Taman Kota

Malam ini, bulan bersinar begitu indah. Sinar peraknya menyapa setiap hati, tak peduli hati itu sedang bahagia ataupun dirundung nestapa. Ia hanya ingin memberikan kebahagiaan bagi setiap insan yang sedang berada di luar. Di halaman. Di atap. Di jalan. Di lapangan. Di mana saja, asalkan di luar ruangan. Termasuk juga di taman kota yang begitu ramai dikunjungi berbagai jenis manusia dengan berbagai macam usia dan gender.

Angin berhembus pelan, membelai rambut-rambut tanpa penutup dan wajah-wajah yang dilingkupi senyum kebahagiaan. Kehidupan mereka – setidaknya untuk malam ini – layaknya air sungai yang mengalir perlahan, entah kapan akan sampai pada lautan kebahagiaan sesungguhnya, atau akan ada limbah yang mencemarinya saat perjalanan menuju lautan. Mereka tidak tahu, dengan apa mereka akan mengakhiri malam yang indah ini. Yang penting, dinikmati saja.

Malam semakin larut. Taman kota menjadi semakin sepi, meski keindahan sinar bulan yang menaungi malam tidak sedikitpun berkurang. Pun angin sepoi terus berhembus, menyusupkan hawa dingin pada permukaan kulit.

Taman kota semakin lengan menyisakan beberapa pasangan yang menikmati keromantisan di atas bangku-bangku di pojok taman. Mereka saling bercanda. Saling berbagi kehangatan. Berbagi dekap pelukan. Berbagi ciuman. Berbagi apapun yang bisa mereka bagikan dengan pasangannya. Ya, mereka hanya berbagi.

Mendekati tengah malam, bulan tersaput awan hitam. Gerimis datang, mendukung hawa dingin yang kian menerjang bagai banjir bandang. Hingga di taman, hanya tersisa satu pasang kekasih yang bertahan dan berharap sebuah kehangatan segera bertandang.

Pasangan itu berdekapan erat, menjelma magnet yang mempertemukan kutub utara dan kutub selatannya. Setiap detik yang berlalu, semakin menambah kencang dekapan itu. Ketika gerimis semakin deras mengguyur mereka, mereka tak sedikitpun menyerah untuk sekadar enyah dari tempat duduk mereka di sudut taman. Bahkan, kini sang gadis melepas jibabnya yang sudah kuyup, lalu menjadikannya tali yang menyatukan tubuh mereka berdua.

Entah, gelap malam beserta gerimis, asmara yang semakin membara membungkam tiap suara atau apa yang telah merabunkan matanya. Sang gadis menyembunyikan kedua bola matanya di balik kelopak, hingga ia tak lagi dapat melihat sang lelaki yang menjelma babi. Sang babi mencium, sang gadis mendesah. Sang babi mengendus dan menggigit bagian-bagian tubuhnya, sang gadis semakin mengencangkan desahannya. Sang babi menanggalkan pakaiannya, sang gadis tersenyum nakal. Meski ada yang bergolak di dada, sang gadis menepisnya. Menyimpan pergolakan itu bersama moral di dalam tasnya. Sang babi bertualang di sekujur tubuhnya, sang gadis tertawa kecil, kegelian. Sang babi menindih tubuhnya, sang gadis mengejan. Ia tak sadar, keperawanannya telah mengendap keluar dari tubuhnya, lalu bersembunyi bersama pergolakan jiwa dan moral yang sedang menangis bersama kitab suci di dalam tasnya.

Sebentar lagi, malam pudar. Sang gadis mengeluarkan bola mata dari persembunyiannya. Ia melihat sekeliling. Gerimis sudah reda. Ia tak melihat babi yang tadi menindih badannya, ia hanya melihat kekasihnya dengan napas tersengal terkulai di samping bangku taman; tanpa berhalang.

Sebentar lagi, subuh menjelang. Sang gadis merasakan ada sesuatu yang hilang, tapi ia tak tahu apa itu. Ia hanya mendengar suara rintihan dari dalam tasnya. Dan, seketika gerimis kembali turun, lalu berpindah ke dua bola matanya.

~ Aam, –butirbutirhujan-

About Ikhwan Al Amin

"I am a mathematician, but very interested to writing on media especially about politics and world of education characters. Loved sastra. Studied in Bogor Agricultural University, Indonesia."
This entry was posted in Nasihat and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s