Semalam Lagi Saja, Bu

Dalam musim-musim berbalut sendu
Engkau berusaha menyenangkanku
Walau sesekali engkau membentak
Sesekali engkau marah dan berteriak
#
Karena kesalahanku, Bu
Karena kekhawatiranmu terhadapku
Aku baru mengerti sekarang
Setelah engkau menghilang
#
Bilakah aku bisa mengukir lengkung indah di sudut bibirmu, Ibu?
Berupa pelangi yang hadir selepas hujan lalu teduh
Bukan berupa kesedihan yang kerap hadir di dinding hatimu
Tiada yang tahu, sebab engkau penyimpan kesedihan terbaik, Bu…
#
Engkau biarkan rintik-rintik kesedihan berubah menjadi hujan
Engkau biarkan wajahmu kering sebab air mata jatuh ke dalam
Padahal hatimu telah jauh dari kemarau panjang
Engkau biarkan dirimu dalam kerapuhan
#
Jikalah aku memahamimu sejak dulu
Takkan kubiarkan engkau menelan sendiri air matamu
Takkan kusia-siakan hari-hariku bersamamu
Bahkan, akan kunikmati setiap kesahalan dan nasehat yang lalu
#
Tapi, Bu… Kini engkau hanyalah bebayang semu di antara coretan dangkalku
Aku hanya mampu meringkuk tunduk dalam pelukmu
Biarkan aku tidur bersamamu semalam saja
Dan setiap malam aku akan meminta semalam lagi saja, dan seterusnya hingga kita bersama

~ Haru penuh duka

Lihat sumber di sini

About Ikhwan Al Amin

"I am a mathematician, but very interested to writing on media especially about politics and world of education characters. Loved sastra. Studied in Bogor Agricultural University, Indonesia."
This entry was posted in Sastra and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s