Reformasi Total

Sudah 15 tahun lalu sejak Indonesia melakukan perubahan melalui apa yang dinamakan reformasi. Entah siapa saja yang mengingatnya. Tepat 6 hari yang lalu di tahun 1998, terjadi tragedi Trisakti. Di sana terdapat 4 orang mahasiswa yang tewas yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada. Dan akhirnya dikenal sebagai pahlawan reformasi.

Jika kita melihat daerah lain, ternyata sudah ada korban yang yang lebih dulu tumbang oleh penguasa tirani masa itu. Yogyakarta menjadi saksi. Saat itu terjadi sebuah tragedi yang bernama Peristiwa Gejayan. Sebuah peristiwa bentrokan berdarah pada Jumat 8 Mei 1998 di daerah Gejayan, Yogyakarta, dalam demonstrasi menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto. Kekerasan aparat menyebabkan ratusan korban luka, dan satu orang, Moses Gatutkaca, meninggal dunia. Untuk menghormatinya, sejak 20 Mei 1998, Jalan Kolombo yang berada tepat di sebelah kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta diubah namanya menjadi Jalan Moses Gatutkaca.

Tak semua peristiwa terekam dalam sejarah. Mungkin lebih banyak lagi tragedi lain yang terjadi pada waktu itu. Tanggal 18 Mei, gelombang pertama mahasiswa memasuki halaman dan menginap di Gedung DPR/MPR. Sehari setelahnya ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, Jakarta. Salahsatunya adalah ayahku🙂

Aksi Mahasiswa Tahun ’98

Ketika itu, Amien Rais mengajak massa mendatangi Lapangan Monumen Nasional untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Beruntung hal itu segera dibatalkan oleh massa. Masih teringat dalam ingatan cerita ayah dan murabbi-ku, esok sudah direncanakan untuk aksi besar-besaran di monas tetapi harus diputuskan untuk tidak jadi hanya dalam waktu semalam. Sebab jika melihat suasana monas saat itu, sudah ada 80000 tentara lengkap dengan senjatanya memenuhi monas. Mereka telah bersiap siaga dengan wajah penuh loreng. Tidak dapat dibayangkan jika hari itu ayah jadi aksi di monas, mungkin aku tak dapat bertemu lagi dengannya.

Alhamdulillah tanggal 21 Mei 1998, akhirnya Pak Harto mengumumkan pengunduran dirinya. Disambut dengan suka cita oleh para mahasiswa dan seluruh rakyat Indonesia. Ada yang tahu tuntukan kita -mahasiswa- kala itu? Ada enam, yaitu:
1. Adili Suharto dan kroni-kroninya,
2. Laksanakan amandemen UUD 1945,
3. Penghapusan Dwi Fungsi ABRI,
4. Pelaksanaan otonomi daerah yang seluasluasnya,
5. Tegakkan supremasi hukum,
6. Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN.

Panjang juga ya aku bercerita. Jadi ingat sebuah syair..

Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya
Oleh: Taufiq Ismail

“Tadi siang ada yang mati, Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu.
Anak-anak sekolahYang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan dalam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka
Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil “Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan”
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya “Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju kami, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”Saya tersedu, bu.
Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.
1966

Dan sejarah itu berulang. Di tahun 1998, saat ayahku dan kawan-kawannya bergerak ke DPR dari Depok, para tukang koran pun berteriak, “Hidup Reformasi!, Hidup Mahasiswa!”. Bus-bus kota dari terminal Depok pada Senin 19 Mei 1998 tak henti-hentinya masuk ke kampus UI Depok untuk mengangkut ribuan mahasiswa yang akan menduduki DPR. Siapa yang membayar bus-bus itu? Yang jelas, mahasiswa, tak sanggup membayarnya, tapi bus-bus itu terus masuk ke kampus dan mengantar kami ke DPR. Sampai di DPR, kami hanya berucap “Thank you” dan sang supir pun membalas senyum.

Negeri para bedebah…
oleh Adhie M Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit, burung-burung kondor menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah ?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Sebuah puisi yang dibacakan oleh Adhie M Massardi di halaman kantor KPK dalam bagian dari aksi keprihatinan untuk KPK pada 2 November 2009.

Kawan, sudah 15 tahun reformasi Indonesia, namun sudahkah Indonesia benar-benar mereformasi diri?

Banyak kasus yang belum terungkap diselesaikan oleh KPK secara tuntas. Hambalang, Simulator SIM, Impor Daging, hingga Century yang tidak jelas nasibnya. Mari dukung KPK tuntaskan semuanya. Reformasi total untuk sebuah kebangkitan negeri yang bernama INDONESIA.

~ BEM KM IPB bersama BEM se-Indonesia

About Ikhwan Al Amin

"I am a mathematician, but very interested to writing on media especially about politics and world of education characters. Loved sastra. Studied in Bogor Agricultural University, Indonesia."
This entry was posted in Umum and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s