Krisis Kepercayaan Menuju 2014

Sudah lama Indonesia menjadi salah satu negara yang terkenal dengan berbagai kasus korupsi yang menurunkan citra bangsa. Bahkan menurut survey yang dilakukan transparency.org, sebuah badan independen dari 146 negara, Indonesia sempat menduduki peringkat ke 5 negara terkorup di dunia pada tahun 2012. Dan menjadi negara terkorup se-Asia Pasifik pada tahun yang sama. Sungguh sangat menyedihkan. Belakangan ini pun Indonesia dihebohkan kembali dengan berbagai kasus yang menggiring para aktor politik ke meja pengadilan. Mulai dari kasus impor daging yang terbaru dengan melibatkan seorang ketua partai, kasus Hambalang, simulator SIM, dan Century yang hingga kini belum ada titik terang. Sebagian besar kasus itu pun belum selesai secara tuntas, bahkan beberapa terkesan “sengaja” tidak disentuh. Seakan ada pengalihan isu di sana.

Di samping itu kepercayaan masyarakat semakin menurun melihat kondisi politik yang ada. Bahkan hal ini pun terjadi kepada partai penguasa yang sedang terkena gempuran kasus korupsi. Seakan tak ada lagi yang dapat dipercaya. Semua mengumbar janji alias gombal, karena apa yang dikatakan seringkali berbeda dengan kenyataan di lapangan. Karena itulah terjadi peningkatan apatisme masyarakat yang salah satu cara implementasinya yaitu dengan tidak ikut memilih pada pemilu atau golput. Hal ini terbukti dengan penurunan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) kepala daerah yang baru-baru ini dilaksanakan yaitu di Jakarta, Jawa Barat dan Sumatera Utara. Pada pemilukada Jakarta beberapa waktu yang lalu angka golput mencapai 40%. Di Jawa Barat jumlah masyarakat yang golput pada pemilukada 2013 mencapai 36%. Demikian juga di Sumatera Utara, angka golput mencapai 50%. Sangat disayangkan, jika kita melihat angka golput dari tahun ke tahun semakin meningkat, dan ini terjadi pada era demokrasi yang semakin maju.

Merosotnya citra politik akibat banyaknya aktor politik yang tersandung korupsi semakin membuat masyarakat tidak peduli terhadap kondisi politik negeri ini. Terjadi krisis kepercayaan yang tinggi. Bahkan hal ini terjadi pada kelompok intelektual yang notabene mengerti masalah semacam ini. Politik yang “terkenal” kotor itu pun membuat orang-orang kecil yang berada di kalangan bawah menjauh dari suasana politik. Hal ini menyebabkan timbulnya krisis kepercayaan yang berkelanjutan dan tidak diketahui sampai kapan akan berakhir jika tidak ada perubahan pada situasi politik yang ada. Bahkan diperkirakan masih akan banyak kasus korupsi ataupun kasus-kasus negatif yang menghantui para aktor politik. Tahun ini bisa disebut juga tahun buka-bukaan, sebab semua masalah yang terjadi melibatkan orang-orang penting yang ada di negeri ini. Tak tanggung-tanggung, mulai dari Ketua Partai, Menteri, bahkan hingga Presiden ikut terlibat menjadi terduga kasus atau setidaknya ikut turun secara langsung untuk menyelesaikan masalah ini hingga tak jarang namanya menjadi sorotan publik.

Sudah waktunya para aktor politik di negeri ini bersama partai politik yang mengusung mereka berkaca diri. Evaluasi kinerja bukan hanya sekadar mengumbar kata. Carilah kader-kader yang baik dan militan terhadap kebenaran dan keadilan, serta komitmen untuk menyejahterakan rakyat, bukan untuk memperkaya diri dan golongannya. Jangan sampai masih mempertahankan oknum-oknum yang berpotensi merusak citra politik negeri ini.

Jika dalam dunia pekerjaan saja kita harus mencari karyawan yang jujur dan baik serta memiliki kualifikasi yang tinggi sesuai dengan bidang yang ditekuninya, maka sudah seharusnya dunia politik melakukan hal yang sama seperti sebuah perusahaan mencari karyawan terbaiknya. Karyawan yang bisa mendongkrak citra perusahaannya di mata pelanggan dan publik. Hilangkan rasa kesukuan dan golongan. Dan bawa produk-produk terbaik perusahaan yang siap dipasarkan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat umum. Perusahaan berusaha membuat produk, memasarkan demi melayani pelanggan setia mereka dan publik agar ikut mencoba produk terbaik buatan mereka. Dunia politik ibarat dunia kerja semacam itu. Maka tugas utamanya ialah memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat.

Krisis kepercayaan yang sudah lama terjadi jangan sampai tidak ada ujungnya. Apalagi tahun ini adalah tahun penting menjelang persaingan pemilihan presiden pada 2014 mendatang. Sudah saatnya para aktor politik berbenah diri. Menyiapkan pribadi menjadi lebih baik lagi. Menciptakan atmosfer politik yang sejuk dan nyaman. Analogi perusahaan seharusnya dapat memberikan sedikit pencerahan agar para aktor politik sadar bagaimana mereka seharusnya berbuat.

Jas merah”, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Kalimat tersebut merupakan kalimat Bung Karno yang sarat makna. Kita harus kembali membuka lembaran sejarah bangsa ini. Para pahlawan terkenal gigih, memiliki integritas tinggi, juga selalu semangat membangun bangsa ini meskipun ia tak mendapat imbalan. Mereka yakin akan masa depan bangsa ini. Para pemimpin negeri ini harus belajar menjaga idealisme yang baik sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh para pendahulu bangsa ini.

Dimuat di Dakwatuna

About Ikhwan Al Amin

"I am a mathematician, but very interested to writing on media especially about politics and world of education characters. Loved sastra. Studied in Bogor Agricultural University, Indonesia."
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Krisis Kepercayaan Menuju 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s