Anarkisme yang Membudaya

Belakangan ini berita selalu dihiasi warna-warni anarkisme. Hal terbaru adalah tentang insiden Palopo. Setiap ada hal yang tidak sesuai dalam pandangan satu golongan masyarakat, maka seakan terjawab dengan aksi-aksi anarkis. Pembakaran dan perusakan fasilitas publik terjadi di mana-mana.

Nilai-nilai moral yang ditanam oleh para pendidik seolah tak memberikan efek bagi berbagai kalangan bahkan kalangan muda dari para pelajar yang katanya kaum intelektual. Tawuran pelajar SMP, SMA hingga mahasiswa seakan menjadi fenomena biasa. Alangkah sedihnya negeri ini.

Sifat anarkis yang sudah jelas tidak disukai dan dicap buruk tak dikenali para pelakunya. Lagi-lagi yang disalahkan adalah para pendidik. Namun, itu memang benar. Pendidik bukan hanya guru, ia bisa orangtua, teman sebaya, dan lingkungan tempat tinggal kita. Seseorang yang sudah biasa mendapat tekanan dari keluarga, perlakuan kasar dari seorang ayah misalnya, secara psikologis perlahan-lahan akan menanamkan sifat keras dan kasar pada seorang anak. Dan pada akhirnya akan memunculkan sifat anarkis.

Anarkisme merupakan sifat yang muncul dari diri manusia. Ketika ia sudah membudaya maka generasi setelahnya pun akan ikut membawa sifat itu. Sifat yang seharusnya bisa dikendalikan tak hanya oleh TNI dan POLRI, namun harus bisa dikendalikan juga oleh nurani diri.

Menghilangkan sifat anarkis harus dimulai dengan memotong mata rantai penyambung budaya yang tidak baik ini. Salahsatunya dengan pendidikan moral yang baik dalam keluarga. Keluarga sebagai lingkungan pertama yang dikenali seorang anak harus jauh dari sifat anarkis yang berarti keras dan kasar. Pendidikan dari seorang ibu yang lembut seharusnya bisa mengantisipasi munculnya sifat itu.

Keluarga sebagai sarana utama pendidikan karakter dari seseorang harus mendapat perhatian para pendidik dan kaum intelektual juga pemerintah. Sebab, menghilangkan sebuah budaya tidak bisa dengan menghancurkan para pelakunya. Akan lebih baik jika kita memutus mata rantai penyambung kebudayaan itu.

Indonesia yang terkenal sebagai negara yang ramah dan baik di dunia internasional harus mempertahankan identitas itu sebagai sebuah budaya. Maka anarkisme yang sudah membudaya ini harus dihapus dan diganti dengan identitas sebenarnya dari bangsa ini. Bangsa yang ramah dan baik.

Dimuat di berita99.com

About Ikhwan Al Amin

"I am a mathematician, but very interested to writing on media especially about politics and world of education characters. Loved sastra. Studied in Bogor Agricultural University, Indonesia."
This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s