Kesederhanaan Hidup

Entah mengapa diri ini tak begitu senang dengan sebuah kata. Mewah. Tak salah, namun setahuku kata itu rasanya tak pernah tampak pada diri seorang teladan. Orang yang senantiasa mengajarkan kesederhanaan dalam mengarungi samudera kehidupan. Seseorang yang bisa melakukan apapun dengan kekayaannya namun ia merelakannya demi kemuliaan. Siapa lagi orang itu jika bukan Sang Nabi.

Pernah suatu hari ketika shalat berjamaah, Rasulullah saw mengimami shalat sebagaimana biasanya. Namun ketika itu terdengar suara aneh dari perut Nabi yang tidak biasa. Ketika selesai shalat maka ada sahabat yang memberanikan diri untuk bertanya. “Wahai Nabiyullah, ada apa di perutmu? Ketika shalat kami mendengar sesuatu yang tidak biasa. Apakah engkau belum makan?” Jawab Nabi, “Lihatlah ini.” Beliau memperlihatkan batu yang diikatkan dengan sarung ke perutnya yang mulia. Dan beliau mengatakan sudah tiga hari belum makan kecuali sekedar minum air putih. Beliau tidak bisa nyaman makan sedangkan masih ada umat beliau yang kelaparan.

Sungguh amat berbeda dengan sikap dan perilaku mereka yang mengaku pengikut Nabi namun tak peduli dengan orang-orang yang membutuhkan uluran tangannya. Sudah berapa kali kita kenyang? Apakah saat kita makan kita memikirkan orang-orang di sekitar kita?

Rasulullah mengajarkan kesederhanaan bukan penyiksaan diri. Ketika itu beliau memang sedang tidak memiliki makanan dan beliau tidak ingin merepotkan sahabat-sahabat beliau. Beliau pun ingin merasakan kelaparan yang terjadi pada umatnya. Padahal jika sahabat beliau tahu, pasti dan pasti mereka akan segera membantu.

Jangan menyerah dengan kondisi yang sedang kita alami. Dan ketika kita merasakan kesenangan ataupun kebahagiaan, berbagilah pada orang di sekeliling kita. Karena dunia akan semakin indah ketika setiap orang berbuat baik dan mau berbagi kebaikannya itu pada orang lain. Mulailah dari hal yang sederhana. Berbagi adalah bagian dari kesederhanaan itu.

About Ikhwan Al Amin

"I am a mathematician, but very interested to writing on media especially about politics and world of education characters. Loved sastra. Studied in Bogor Agricultural University, Indonesia."
This entry was posted in Obrolan Hati and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s