Generasi Harapan

Keluh kesah tanpa peluh banyak tampak dalam kehidupan. Hal ini menandakan ada orang yang hanya ingin hasil tanpa mau berproses. Mau sukses tapi dengan tanpa usaha. Sungguh suatu kemustahilan yang nyata. Kebanyakan dari kita pun demikian, mungkin termasuk diriku. Belakangan ini banyak istilah baru yang muncul, seperti generasi instan. Sedemikiankah manusia-manusia baru yang muncul di muka bumi? Bukankah seharusnya kita berjalan maju bukan melangkah mundur? Aku tak mengerti. Begitukah generasi ini? Seperti itukah diri ini? Aku ingin lebih baik. Jika tidak ada perbaikan dari sekarang, kapan lagi? Jika tidak aku yang memperbaiki, siapa lagi? Namun, apakah aku harus sendiri? Aku juga ingin kamu dan semua orang peduli hal ini. Dan kita dapat memperbaikinya. Bukankah lebih ringan bila kita melakukannya bersama? Mari mulai sejak detik ini. To be better.

Posted in Curhat | Tagged , | 1 Comment

Persimpangan

Sepasang mata menatapku penuh curiga. Sejurus kemudian rasa takut menelusup masuk ke dalam pikiranku. Tubuhku bergetar. Sepertinya orang tua itu tahu apa yang aku lakukan.

“Nak, sedang apa?” serunya.
“Eh anu pak, sedang…”

Lidahku kelu. Keringat bercucuran dengan derasnya membasahi tubuhku. Kakiku kaku, seakan ada yang menahanku untuk pergi. Batinku menangis. Ada bisikan yang menyadarkanku. Tidak hanya orang tua itu, Kau juga tahu. Aku memohon ampunanMu.

Posted in Nasihat | Tagged | Leave a comment

Timur Jawa

Entah berapa waktu yang lalu aku menemukan sebuah pegumuman kecil tetang sebuah seminar. Awalnya aku tidak begitu tertarik. Sudah terlalu sering, pikirku. Namun ada hal yang berbeda kali ini. Seminar tersebut diadakan di Universitas Brawijaya (UB). Selain itu, ada job fair tentang sebuah profesi yang sangat erat dengan apa yang saya geluti selama ini di kampus. Mulanya hanya 9 orang, dan beberapa hari kemudian menjadi 44 orang pendaftar. Dan pada akhirnya aku memutuskan menjadi pendaftar ke 45 atau dengan kata lain adalah pendaftar terakhir. Waktu berlalu, aku mendapat sms dari salah seorang dosen untuk mewakili Matematika IPB seminar di UB bersama 9 orang lainnya. Sebab hanya 10 orang yang diambil dari 45 pendaftar tersebut. Alhamdulillah.

Perjalanan ini pun menjadi perjalanan pertama aku ke timur pulau jawa. Dengan bekal seadanya aku pun berangkat. Satu lagi yang membuat aku tenang ketika akan berangkat adalah semua akomodasi ditanggung oleh komunitas profesi yang kemudian ingin ku dalami.

Tak terasa 15 jam sudah duduk manis di kereta eksekutif, dan pertama kali melihat Malang yang lengang. Tak seperti kotaku, Bogor yang tersohor oleh agkot dan macetnya. Tiba di sana, jemputan sudah siap mengantar kami ke tempat beristirahat.

Siang menjelang, kami bersiap berkeliling melihat suasana kota. Politeknik Negeri Malang, Universitas Brawijaya, dan Universitas Muhammadiyah Malang yang megah itu menjadi pemandangan kampus yang menarik perhatian kami. Kami berkeliling melihat apa saja yang dihadirkan kota ini. Inilah kami…

IMG-20140919-WA0001 IMG-20140919-WA0043

Posted in Perjalanan | Tagged | Leave a comment

Kesabaran

Tahukah kita bahwa kesabaran memiliki ruang tak berbatas?
Menurutku, kita tak bisa menyimpan sabar dalam diri, apalagi dalam hati kecil kita. Kesabaran harus kita titipkan pada Tuhan. Hanya dia yang dapat menggenggam kesabaran kita, menampung segala keluh dan resah kita.

Sabar dalam kesenangan itu berat, namun lebih berat sabar ketika sulit, ketika kita kecewa atau dikecewakan.

Sabar tak ada batasnya. Tuhan telah sebutkan itu dalam kitabnya. Namun semua itu bergantung pada manusianya. Sejauh apa kita sabar, sehebat itu pula kedewasaan diri kita.

Lalu apa yang paling berat dari sabar? Menjaganya.

 
Suasana dingin, penuh canda dan tawa pecinta beladiri Tifan.
Lantai 1 Masjid Al Hurriyyah IPB
Posted in Curhat | Tagged , | 1 Comment

Tertahan

Pagi itu tak seperti biasanya, aku keluar dari asrama mahasiswa tempatku menetap saat matahari belum terlihat wujudnya. Dengan sedikit tergesa aku berjalan kaku menghampiri ruang kelas yang masih terkunci dan kosong. Aku hanya sendiri. Dan kemudian diam menanti. Sepertinya aku terlalu bersemangat, pikirku. Hari ini aku sidang komprehensif sekaligus skripsi. Rasanya dadaku berdetak kencang, ada rasa bahagia dan juga takut. Dua jam nanti adalah penentu kelulusanku selama empat tahun di sini.

Waktu semakin menyesakkan dadaku. Hanya tinggal lima menit lagi aku mulai diuji. Tampak ibu Ade, salah satu staf jurusanku, membukakan pintu tempat aku menentukan nasibku hari ini. Aku mulai tak karuan. Pikiranku seolah menjadi hampa, kosong. Aduh, bagaimana ini. Tiga orang dosen penguji tampak berjalan dengan senyum penuh arti padaku. Mungkin juga senyum mematikan. Dan ternyata, aku masih tertahan oleh waktu. Doakan ya semoga disegerakan :)

 

Posted in Curhat | Tagged | 5 Comments