Berkhayal Menjadi Penulis

Ah, bagaimana bisa saya menjadi penulis?
Adakah jalan pintas agar dapat secara instant menjadi penulis professional?

Menulis bukanlah sebuah hal yang bisa kau dapatkan secara tiba-tiba. Menulis itu keterampilan, kawan. Sesuatu yang harus kau latih jika ingin menjadi ahli. Namun, cara melatihnya cukup sederhana. Hanya dengan membiasakan dirimu menulis. Apapun yang kau lihat, dengar, dan rasakan dapat kau tulis. Hal ini untuk membiasakan dirimu untuk merangkai ide menjadi kalimat lengkap, lalu menjadi paragraf yang sempurna. Untuk penulis pemula seperti saya ini, tidak perlu terbelenggu aturan formal menulis. Apapun yang ingin kau tuliskan, tuliskan saja.

Misal, kau memiliki pengalaman apa hari ini, tuliskan saja pengalaman itu. Kau punya pendapat tentang fenomena yang sedang hangat, tuliskan saja. Bahkan kau sedang berkhayal ingin menjadi penulis handal, tuliskan saja.

Bagi orang yang suka dengan tulisan fiksi biasanya lebih mudah dalam menulis. Hanya dengan melihat benda di sekelilingnya, ia langsung dapat menuliskannya. Dimulai dari yang sederhana dulu saja. Dengan memainkan sedikit imajinasi, kau dapat dengan mudah mendapatkan ide tulisan. Melihat bantal misalnya, terdapat sangat banyak ide cerita dari bantal itu. Sebagai contoh, dari mana bantal itu berasal, bagaimana ia dapat sampai ke atas kasur kita, dll. Atau imajinasi yang sedikit liar, seperti bagaimana bantal itu dapat menghasilkan uang, setiap kita menaruh kertas di bawahnya akan muncul uang, lalu suatu hari kau simpan kertas di bawahnya dan tidak menjadi uang, dst.

Simpel kan? Masih punya alasan untuk tidak menulis?
Ayo latihan dari sekarang!🙂

Posted in Opini | Tagged , | Leave a comment

Pulang Kerja

Kesemrawutan menelisik masuk
Raga bersisa kepayahan

Diri berlumur bakti
Ataukah bernoda caci

Posted in Sastra | Tagged , | Leave a comment

Hari Kerja

Sepi dibangunkan oleh kegaduhan
Pekikan burung
Gemuruh tanah yang marah

Ulat-ulat bergerombol
Mencari santapan pagi

Saat mentari akan sembunyi
Hanya tersisa daun koyak
Ranting patah

Sinar bintang gemintang
Menemani hidangan kegelapan
Menu rasa letih

Posted in Sastra | Tagged , | Leave a comment

Generasi Harapan

Keluh kesah tanpa peluh banyak tampak dalam kehidupan. Hal ini menandakan ada orang yang hanya ingin hasil tanpa mau berproses. Mau sukses tapi dengan tanpa usaha. Sungguh suatu kemustahilan yang nyata. Kebanyakan dari kita pun demikian, mungkin termasuk diriku. Belakangan ini banyak istilah baru yang muncul, seperti generasi instan. Sedemikiankah manusia-manusia baru yang muncul di muka bumi? Bukankah seharusnya kita berjalan maju bukan melangkah mundur? Aku tak mengerti. Begitukah generasi ini? Seperti itukah diri ini? Aku ingin lebih baik. Jika tidak ada perbaikan dari sekarang, kapan lagi? Jika tidak aku yang memperbaiki, siapa lagi? Namun, apakah aku harus sendiri? Aku juga ingin kamu dan semua orang peduli hal ini. Dan kita dapat memperbaikinya. Bukankah lebih ringan bila kita melakukannya bersama? Mari mulai sejak detik ini. To be better.

Posted in Curhat | Tagged , | 1 Comment

Persimpangan

Sepasang mata menatapku penuh curiga. Sejurus kemudian rasa takut menelusup masuk ke dalam pikiranku. Tubuhku bergetar. Sepertinya orang tua itu tahu apa yang aku lakukan.

“Nak, sedang apa?” serunya.
“Eh anu pak, sedang…”

Lidahku kelu. Keringat bercucuran dengan derasnya membasahi tubuhku. Kakiku kaku, seakan ada yang menahanku untuk pergi. Batinku menangis. Ada bisikan yang menyadarkanku. Tidak hanya orang tua itu, Kau juga tahu. Aku memohon ampunanMu.

Posted in Nasihat | Tagged | Leave a comment